Dulu,
cita cita saya adalah sesuatu harapan yang terucap dari mulut ibu saya. Ibu
saya bialng jadi guru aja, enak, apalagi guru di jakarta. Jadi bidan aja, jadi
dokter lah dan lain-lain. Semakin dewasa saya semakin menatap diri ini, kamu
mau seperti apa nantinya, Nurul?. Saya pun tidak tahu. Saya kuliah masuk
departemen Biologi FMIPA di IPB, awalnya saya menyadari bahwa saya punya daya
ketertarikan dengan lingkungan sekitar dan makhluk hidup. Ketika saya lulus,
dunia terasa berwarna kelabu. Bagi saya mencari kerja itu ‘gampang gampang
susah’. Gampang dalam arti, saya merasa punya ‘modal’ untuk menjadi qualified
di suatu perusahaan, dari mulai background pendidikan, ipk, komunikasi dll.
Sulitnya adalah mencari pekerjaan yang sesuai dengan ‘passion’, minat, hati
nurani, dimana sesulit apapun masalah pekerjaan saya nantinya akan dijalani
dengan senang hati karena memang sesuai dengan apa yang diinginkan. Nah, inilah
membuat saya bertanya. Passion saya apa? Di bidang apa? Dimana ‘kekuatan
terbesar ‘ saya?.
Suatu waktu dalam jangka yang
cukup panjang, saya merasa menjadi manusia yang paling ’galau’ dan labil. Akan
kemana lagi kah langkah kaki ini berpijak, ke tempat pekerjaan yang seperti
apalagi yang akan saya jalani. Semua pertanyaan bermunculan di benak saya.
Dalam doa pun saya hanya minta yang terbaik dari sekian jenis pekerjaan terbaik
yang ada di hadapan saya. Ketika itu pun saya memutuskan untuk pergi ke toko
buku terbesar se Asia tenggara untuk mencari inspirasi dan sekedar refreshing
otak sambil hang out bareng teman. Entah kenapa saya amat sangat ‘interest’ di
buku-buku jenis traveling, dari mulai The Naked Traveler nya Trinity, The
Jilbab Travelernya Asma Nadia dll.
‘Enak kali yaah kalo bisa kerja sambil jalan2,
keliling Indonesia kek atau keliling luar negeri, kayaknya berasa out of the
box banget, bisa kerja di luar ruangan segi empat yang kaku itu’. Saya pun
mulai bermimpi akan hal tersebut. Mimpi dan doa. Yah, itulah kekuatan terbesar
saya yang dapat saya lakukan. Di pagi siang sore dan sepertiga malam Nya
senantiasa doa ini dilantunkan, sabar dan ikhlas dalam menjalani proses hidup
saya lakukan. Tiba suatu pagi hari saya melihat hp ada 13 kali miscall dari
seorang teman lama ketika sekolah. ‘ada apa yah?’pikirku. saya pun menelfon
kembali. And can you guess that?!. Teman saya ini adalah teman lama saya ketika
masih duduk di bangku SMA, namun kami berbeda sekolah lebih tepatnya teman se
ce es an di tempat les dahulu. Dia bertanya dalam telfon tersebut. Kamu udah
dapet kerjaan lagi belum? Nih aku lagi disuruh nyari orang yang backgroundnya
pertanian, ada project di NTB tentang bioenergi dari tanaman jagung. Penempatan
disana setahun, dapat tempat tinggal, makan, kendaraan dan gaji yang cukup.
Tiap 3 bulan sekali dapat cuti 2 minggu untuk pulang atau sekedar jalan2.
Seketika itu pun saya langsung sumringah mendengar kabar itu. Saya merasa Allah
benar2 Maha Mendengar doa2 yang selama ini saya ucapkan. Subhanalloh Maha suci
Allah SWT. Hari itu pula saya dijadwalkan interview di kantornya di daerah
Roxy, hujan lebat mengguyuri kota Jakarta seharian. Saya hanya bisa berdoa dan
berdoa, semoga hujan ini membawa berkah dan hikmah. Ya Allah jika memang ini
adalah rejeki yang terbaik untuk saya, kumohon mudahkanlah segala sesuatunya. Amiinnnn
Ya Robbal Aalamiinn. Jabbahkanlah Ya Allah, semoga bukan hanya sekedar kabar
angin semata, tetapi juga menjadi kabar baik dan kabar positif serta menjadi
hadiah spesial di awal tahun 2014 ini. Amin Allohumma Amiin.
Harapan
ddan doa memang tidak terlihat, namun keduanya membuat segala sesuatu yang
tidak mungkin menjadi mungkin. Jangan takut bermimpi, berkhayal, dan berharap.
Karena segala sesuatu jika diniatkan dan dilakukan dengan baik, insya Allah
pasti terwujud. Rejeki itu akan selalu datang dari arah yang tidak terduga
tanpa disangka, dari celah yang mungkin tidak terlihat. Inilah yang membuat
saya senantiasa mensyukuri nikmat-Nya. “Nikmat mana lagi kah yang dapat kau
dustakan?!”